ANALISIS

Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Tapi Inflasi Juga Tinggi, Artinya Stagnasi

Inflasi April 2022 sebesar 3,47% yoy perlu diwaspadai.

By | Selasa, 10 Mei 2022 22:09 WIB

Aktivitas jual beli di pasar tradisional. Kelompok rentan atau kelas menengah ke bawah akan paling terdampak ketika pertumbuhan ekonomi diikuti dengan inflasi tinggi. (Foto ilustrasi/istimewa)
Aktivitas jual beli di pasar tradisional. Kelompok rentan atau kelas menengah ke bawah akan paling terdampak ketika pertumbuhan ekonomi diikuti dengan inflasi tinggi. (Foto ilustrasi/istimewa)

JAKARTA, BELASTING – Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 pada Senin lalu (9/5/2022) memang cukup membawa kabar baik.

Ekonomi Indonesia tumbuh 5,01% sepanjang kuartal I tersebut (Januari-Maret).

Namun ada juga kabar mengkhawatirkan, yaitu tingginya inflasi.




BPS melaporkan inflasi April 2022 mencapai 3,47% yoy (year-on-year, bila dibandingan dengan April 2021).

Atau 0,95% mtm (month-to-month, bila dibandingan dengan bulan Maret 2022).

Atau 2,15% ytd (year to date, bila dibandingkan sejak Januari 2022).



Tapi dari berbagai bentuk perhitungan itu, intinya satu, yaitu ifnlasi April 2022 termasuk tinggi.

Bila secara yoy, maka inflasi April 2022 tertinggi sejak Agustus 2019.

Bila secara mtm, maka lebih luar biasa lagi, karena inflasi April 2022 tertinggi sejak 2017.

Bulan April lalu kebetulan bertepatan dengan Ramadhan.

Lazimnya, selama bulan Ramadhan inflasi memang tinggi, karena konsumsi masyarakat meningkat.

Namun inflasi pada Ramadhan (April) lalu sudah melampaui tingkat inflasi di bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BPS Margo Yuwono lalu membandingkan tngkat inflasi secara mtm dengan lima Ramadhan tahun sebelumnya.

  • Ramadhan 2021 (Mei), inflasi hanya 0,32%
  • Ramadhan 2020 (Juni), inflasi hanya 0,18%
  • Ramadhan 2019 (Mei), inflasi hanya 0,68%
  • Ramadhan 2018 (Juni), inflasi hanya 0,59%
  • Ramadhan 2017 (Juni), inflasi hanya 0,69%

 

Baru pada 2022 ini bulan Ramadhan diwarnai dengan inflasi demikian tinggi, mencapai 0,95% mtm.

Penyebabnya ada dua, yaitu peningkatan harga pangan dan energi.

“Tekanan harga pangan dan energi sangat tinggi,” kata Margo.

Secara lebih spesifik, pangan dan energi yang dimaksud mencakup “minyak goreng, bensin, daging ayam ras, tarif angkutan udara, serta ikan segar,” katanya.

Minyak goreng layak dicatat karena dia juara bertahan.

Sebab pada Maret lalu, minyak goreng (dan harga cabai) juga jadi kontributor utama hingga inflasi Maret 2022 naik jadi 2,64% yoy, dibandingkan Februari 2022 yang hanya 2,06% yoy.

Berarti sudah dua bulan berturut-turut minyak goreng sukses menjadi “biang kerok” inflasi.

Ini juga sinyal bahwa pemerintah harus lebih serius melakukan pengendalian harga (price control) terhadap komoditas pangan, misalnya minyak goreng curah yang HET-nya ditetapkan Rp14 ribu per liter atau Rp15.500 per kg.

Pasalnya meski HET minyak goreng curah ditetapkan sejak dua bulan lalu, persisnya sejak 16 Maret 2022, hingga kini harganya masih bertengger di Rp20-22 ribu per kg.

Larangan ekspo CPO yang sudah berjalan hampir dua pekan juga tidak mampu menurunkan harga minyak goreng curah.

Sedang untuk minyak goreng kemasan, apa boleh buat, pemerintah memang sudah lepas tangan dan harga terserah pasar (kini antara Rp46 ribu hingga Rp50 ribu per 2 liter).

Tingginya infilasi pada April 2022 ini perlu diwaspadai karena para kontributor inflasi masih banyak “antri” untuk tampil di bulan-bulan berikutnya.

Antara lain kenaikan tarif listrik, kenaikan Pertalite, dan kenaikan elpiji 3 kg.

Rencana kenaikan tiga hal itu sebelumnya sudah disampaikan beberapa menteri. Antara lain Menko bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjiaitan, lalu Menteri ESDM Arifin Tasrif.

Kenaikan diprediksi akan dimulai pada Juli 2022.

Bila pengendalian harga (price control) pemerintah terhadap komoditas pangan masih lemah, ditambah tekanan harga minyak akibat perang Rusia-Ukraina, lalu ditambah lagi para kontributor infilasi yang sudah “antri”, maka inflasi beresiko tembus 4%.

Sekadar catatan, pemerintah memang berusaha agar inflasi tidak sampai menembus angka 4%.

Pasalnya dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5%, inflasi sampai 4% akan membuat capaian pertumbuhan ekonomi sia-sia.

Pertumbuhan ekonomi tinggi, bila dimbangi dengan inflasi tinggi, artinya stagnasi.

Selain itu inflasi tinggi juga akan memperlebar jurang kesenjangan, hanya kelas menengah dan menengah atas yang mampu bertahan.

Sebaliknya kelompok rentan, masyarakat menengah ke bawah, harus berjuang mati-matian bertahan dengan kenaikan harga.

Publikasi riset Danareksa Research Institute (DRI) pada 14 April 2022 lalu mengisyaratkan hal ini.

Ketika konsumsi naik selama Ramadhan lalu, menuruut riset Danareksa, teradapat kelompok masyarakat yang tetap menahan belanja, yaitu yang berpenghasilan di bawah Rp3 juta per bulan.

“Yang penghasilannya di bawah Rp3 juta, keinginan belanjanya sangat turun drastis,” kata Kepala Ekonom DRI, Rima Prama Artha.

Inilah resiko yang harus diwaspadai ketika tingkat inflasi mendekati tingkat pertumbuhan ekonomi.

Tentu saja ada skenario yang lebih buruk, yaiu ketika inflasi melampaui pertumbuhan ekonomi, yang berarti secara riil daya beli masyarakat justru menurun, meski pertumbuhan ekonomi tinggi.

Tapi mudah-mudahan tidak ---dan kemungkinannya kecil-- skenario lebih buruk itu akan terjadi. (bsf)



KOMENTAR

Silahkan berikan komentar dengan baik

Tulis Komentar Anda :