APBN 2023

Saat PDB Naik, Tapi Tax Ratio Turun Tahun Depan

Tax ratio Indonesia disetel masih dibawah 10% pada tahun depan

By | Jum'at, 30 September 2022 09:11 WIB

Ilustrasi tax ratio (foto: Istimewa)
Ilustrasi tax ratio (foto: Istimewa)

JAKARTA,BELASTING - Rapat Paripurna DPR-RI memberikan lampu hijau untuk pengesahan RUU APBN 2023 menjadi undang-undang.

Melalui pembahasan dengan Komisi XI dan Badan Anggaran (Banggar) DPR, sejumlah indikator dalam asumsi makro dan postur APBN ikut berubah. Salah satunya adalah target pendapatan negara.

"Banggar bersama pemerintah memiliki pemahaman bersama untuk melanjutkan konsolidasi fiskal yang berkualitas dengan memperkuat mobilisasi pendapatan dalam kerangka reformasi perpajakan," kata Ketua Banggar DPR, Said Abdullah dalam Rapat Paripurna DPR.




Target pendapatan negara pada tahun depan disepakati naik dari Rp2.443,59 triliun menjadi Rp2.463,02 triliun atau ada kenaikan sejumlah Rp19,43 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari target penerimaan pajak 2023 sejumlah Rp1.718,03 triliun. Angka tersebut naik dari usulan awal pemerintah yang senilai Rp1.715,13 triliun.

Target penerimaan kepabeanan dan cukai tahun depan ditetapkan senilai Rp303,19 triliun. Angka target DJBC naik dari usulan awal sejumlah Rp301,79 triliun.



Namun demikian, kinerja tax ratio dengan penetapan target tersebut justru mengalami penurunan dibandingkan proyeksi tahun ini. Pemerintah dan DPR sepakat produk domestik bruto (PDB) nominal pada 2023 sejumlah Rp21.037,9 triliun atau naik dari proyeksi tahun ini yang berkisar pada angka Rp18.000 triliun.

Hasilnya, jika target penerimaan tercapai dan PDB nominal sesuai dengan prediksi pemerintah maka tax ratio perpajakan dengan target setoran pajak plus bea cukai Rp2.021,2 triliun dibandingkan PDB sebesar 9,6%.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pemerintah untuk tax ratio perpajakan pada tahun ini yang sebesar 9,9%.

Selanjutnya, target penerimaan pajak tahun depan ditetapkan senilai Rp1.718.03 triliun. Proyeksi PDB nominal Rp21.037,9 membuat tax ratio pajak tahun depan sebesar 8,16%.

Lagi-lagi, angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi tahun ini dengan tax ratio yang mencapai 8,35%.

Padahal, Presiden Joko Widodo dalam pidato RAPBN 2023 pada Agustus 2022 berkomitmen untuk melakukan reformasi fiskal dengan hasil tax ratio perpajakan yang meningkat. Tujuannya untuk optimalisasi pendapatan sebagai bagian dari skema pemulihan ekonomi nasional.

"Reformasi fiskal di sisi penerimaan dijalankan dengan optimalisasi pendapatan yang ditempuh melalui penggalian potensi, perluasan basis perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, dan optimalisasi pengelolaan aset, serta inovasi layanan. Dengan demikian, rasio perpajakan dapat meningkat dan memperkuat ruang fiskal, dengan tetap menjaga iklim investasi, keberlanjutan dunia usaha, dan melindungi daya beli masyarakat," kata Presiden Joko Widodo. (das)



KOMENTAR

Silahkan berikan komentar dengan baik

Tulis Komentar Anda :