KEBIJAKAN FISKAL

AHY Bilang Utang Terus Naik dan Cadev Kian Tipis, Yustinus Prastowo: Terjebak Pada Angka

Urusan utang kembali menghangat seiring mendekati hajatan demokrasi 2024

By | Senin, 23 Januari 2023 15:41 WIB

Tangkapan layar pidato Agus Harimurti Yudhoyono
Tangkapan layar pidato Agus Harimurti Yudhoyono

JAKARTA,BELASTING - Staf Khusus Menkeu Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo merespons kritik yang dilayangkan oleh Ketua Umum Partai Demoktrat, Agus Harimurti Yudhoyono.

Melalui video singkat di akun Twitter Partai Demokrat, AHY menyampaikan keresahan politik soal pengelolaan ekonomi di era Presiden Joko Widodo. Menurutnya, kondisi utang luar negeri makin menumpuk dan pada sisi lain cadangan devisa makin menipis karena nilai tukar rupiah yang melemah.

"Tentu kritik seperti yg disampaikan Mas @AgusYudhoyono ini harus dihormati. Kita berterima kasih. Ini tanda demokrasi berdenyut krn ruang perbedaan dirawat. Sayang kritik @PDemokrat ahistoris, terjebak pada angka, bukan kondisi faktual yg dinamis. Di situ esensinya. Kita bahas," balas @prastow Senin (23/1/2023).




Yustinus menjabarkan duduk perkara rasio utang yang terjaga di level maksimal 30% terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam kurun waktu 2015-2019. Utang meningkat tajam pada periode Covid-19.

Pada tahun fiskal 2020, rasio utang naik dari 30% PDB menjadi 38% PDB sebagai harga yang harus dibayar untuk penanggulangan pandemi, khususnya dalam bidang kesehatan.

Dia menerangkan posisi utang pemerintah hingga akhir tahun lalu senilai Rp7.733,99 triliun memang besar secara nomimal. Namun, hal tersebut menjadi bagian dari pengelolaan fiskal pemerintah untuk menurunkan rasio utang dari 40,74% pada 2021 menjadi 39,57% pada 2022.



Sementara itu, soal cadev yang terus tergerus merupakan imbas dari kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan faktor geopolitik internasional. Menurutnya, sudah dilakukan langkah intervensi dan dia menilai posisi cadev Indonesia masih dalam ketegori aman.

"Terakhir Mas @AgusYudhoyono menyinggung soal cadangan devisa. Mas, rupiah melemah karena dampak kebijakan ekonomi US dan geopolitik global. Bukankah harus diantisipasi agar tdk merugikan rakyat? Maka dilakukan intervensi. Pelemahan kita trmsk moderat. Cadev sangat aman," ulasnya. (das)



KOMENTAR

Silahkan berikan komentar dengan baik

Tulis Komentar Anda :