SURAT DARI LUBANG BUAYA

Agar Publik Lebih Mudah Paham

Kami menghadirkan sejumlah subkanal baru untuk memudahkan pemahaman pembaca.

By | Rabu, 21 September 2022 06:29 WIB

Sebagian awak Belasting seusai menggelar rapat mingguan. (Foto: Belasting)
Sebagian awak Belasting seusai menggelar rapat mingguan. (Foto: Belasting)

JUJUR, tidak mudah mengelola situs berita seperti Belasting untuk bisa tetap eksis, tampil setiap hari dengan menyajikan berita yang sudah bersih ke hadapan Anda. Tentu ada begitu banyak masalah di dapurnya. Mulai dari sumber daya manusia, soal-soal teknologi, peralatan, psikologi, hingga merembet ke masalah keuangan.

Namun, kami tetap bertahan, juga dengan prinsip yang kami gariskan sejak awal, kritis dan independen. Dan di tengah segala masalah itu, kami berusaha menampilkan yang terbaik: Memudahkan pembaca agar memahami persoalan. Hanya dengan memahami persoalan itulah, pembaca dapat mengambil sikap atau pilihan terbaiknya,

Seringkali, topik yang kami ketengahkan adalah topik yang bukan untuk kacamata awam: Pajak, bea cukai, atau audit. Ini tentu topik yang tidak mudah. Topik yang jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Di Indonesia saat ini, topik ini seperti suasana senyap lobi hotel bintang 5 berpendingin udara, bukan suasana pasar.




Akan tetapi, justru karena itu kami perlu berpikir keras, terus-menerus mengeksplorasi kata dan istilah, agar bisa menghadirkan topik-topik tersebut dalam bahasa yang mudah dipahami awam, sekaligus tanpa menyalahi aturan. Kadang, justru di situlah ketegangan sekaligus tarik-menarik itu berada.

Seorang mantan Dirjen Pajak pernah keliru mengatakan ia baru menemui asosiasi pengusaha batu bara yang meminta agar batu bara tidak dikenai pajak pertambahan nilai (PPN). Padahal, waktu itu, para pengusaha batu bara tersebut sampai berjuang ke Mahkamah Agung agar batu bara yang bebas PPN bisa dikenai PPN.

Seorang mantan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang suatu hari menjadi penanggung jawab audit investigasi pernah bercerita, bagaimana ia membaca hasil auditnya sampai 3 kali, dan masih tetap belum berhasil memahami isinya. “Bahasanya seperti bahasa dari planet lain,” keluhnya.



Ada banyak contoh yang menunjukkan bagaimana orang-orang yang seharusnya sangat memahami pekerjaannya, malah menjadi orang terakhir yang memahaminya. Kami tidak mau seperti itu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk berusaha memudahkan orang memahami apa yang kami sajikan.

Sebetulnya, usaha itu adalah perwujudan satu prinsip lama yang hingga kini masih terus dipakai dalam tradisi jurnalistik di muka bumi ini. Masih ingat ketika 26 tahun silam terjadi kasus korupsi jumbo Eddy Tansil yang membobol Bapindo (Bank Pembangunan Indonesia) hingga Rp1,3 triliun?

Waktu itu, untuk memudahkan pemahaman awam atas besarnya nilai uang yang dikorupsi tersebut, media-media cetak ramai menulis, yang mungkin saja akan menyebabkan kita menahan senyum: “Kalau uang korupsi itu dijadikan uang seribuan yang disambung-sambung, maka panjangnya bisa mengelilingi 3 kali Pulau Jawa…

Itulah yang sebenarnya kami lakukan, termasuk dengan menghadirkan sejumlah subkanal baru yang memang kami rencanakan dalam setahun usia Belasting. Yang terbaru adalah kanal Teropong. Dalam subkanal ini, Anda akan menemui satu tema besar yang mengikat semua ragam artikel yang ditayangkan.

Di dalamnya ada artikel analisis, kelas, kamus, tajuk, kutipan, ilustrasi, dan berita. Semua ragam artikel tersebut dipersatukan oleh satu tema yang sama. Harapan kami, pengelompokan itu akan memudahkan pembaca untuk memahami apa yang kami sampaikan.

Jadi, itu kabar terakhir kami dari Lubang Buaya, dalam setahun usia Belasting. Semoga Anda tetap sehat, bahagia, dan selamat sejahtera, lahir dan batin. Selamat membaca. Salam. (Bsi)



KOMENTAR

Silahkan berikan komentar dengan baik

Tulis Komentar Anda :