ADMINISTRASI PABEAN

Indonesia-Hong Kong Mulai Terapkan MRA AEO

MRA AEO diharapkan bisa mewujudkan efisiensi waktu dan biaya logistik.

By | Rabu, 07 Februari 2024 19:54 WIB

Neraca perdagangan Indonesia dengan Hong Kong menampilkan surplus yang terus meningkat. - Foto Repro
Neraca perdagangan Indonesia dengan Hong Kong menampilkan surplus yang terus meningkat. - Foto Repro

Belasting, JAKARTA-Bea Cukai mulai mengimplementasikan secara penuh Mutual Recognition Arrangement on Authorized Economic Operator (MRA AEO) Indonesia-Hong Kong pada 1 Februari 2024, 

Implementasi MRA AEO merupakan tindak lajut kesepakatan kedua negara yang ditandatangani pada Agustus 2022. 

MRA AEO Indonesia-Hong Kong merupakan kesepakatan pengakuan timbal balik antara administrasi kepabeanan kedua negara tentang program-program AEO, agar dapat diakui dan diterima di tiap-tiap negara.




Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai Encep Dudi Ginanjar mengatakan kesepakatan ini utamanya memuat tentang skema pemberian beberapa fasilitas perdagangan bagi Indonesia. 

Untuk importir, baik yang berstatus AEO maupun non-AEO, yang akan mengimpor barang berasal dari perusahaan AEO di Hong Kong, akan mendapatkan percepatan proses customs clearance pada saat pemberitahuan impor barang BC 2.0 di Indonesia. 

Adapun untuk eksportir AEO yang mengekspor barang ke Hong Kong akan mendapatkan percepatan proses customs clearance.  



Implementasi MRA AEO diharapkan dapat berdampak baik bagi kedua belah pihak. Kesepakatan ini juga menjadi salah satu tanda optimisme hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Hong Kong. 

"Dengan MRA AEO Indonesia-Hong Kong, akses pasar internasional bagi pelaku bisnis di dua negara terutama usaha kecil dan menengah akan semakin mudah," ujarnya, Selasa (06/2/2024) 

Implementasi MRA AEO diharapkan bisa mewujudkan efisiensi waktu dan biaya logistik dan pengakuan status AEO yang baik, kepastian hukum, dan lainnya, sehingga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di kedua negara.

Ia juga menegaskan, sebagai pengejawantahan komitmen serta tugas dan fungsi trade facilitator, Bea Cukai akan terus mengawal implementasi MRA AEO Indonesia-Hong Kong. Hal ini semata untuk mendukung efisiensi biaya logistik dan pertumbuhan ekonomi. 

"Kami juga mengapresiasi para pengguna jasa yang mendukung implementasi MRA AEO dengan mematuhi peraturan dalam bidang impor dan ekspor. Bersama, kita wujudkan kerja sama perdagangan yang baik demi perekonomian Indonesia," kata Encep.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Hong Kong menampilkan surplus yang terus meningkat berturut-turut US$21,68 miliar (2020), US$35,89 miliar (2021), dan US$54,53 miliar (2022).

Ekspor terbesar Indonesia ke Hong Kong adalah bahan bakar mineral, minyak mineral dan hasil penyulingannya; dan zat bitumen. Terbesar keduanya adalah Mutiara alam atau budidaya, batu mulia atau semi mulia, dan logam mulia.
 



KOMENTAR

Silahkan berikan komentar dengan baik

Tulis Komentar Anda :